728x90 AdSpace

Latest News
Thursday, March 7, 2013

Aleg PKS & Ikat Pinggang Plastik


Suatu ketika disenja temaram, saya singgah di mall dekat sebuah kampus universitas tempat saya membanting tulang sehari-hari. Setelah beranjak dari parking area, saya langsung menuju lantai 2, lokasi dimana sang maksud berada. Tidak seberapa kedip mata, benda yg didamba sudah bersua, meski tidak langsung menuju kassa. Saya melongok jam tangan dan hari pun belum jam 5. Demi mengoptimalkan masa parkir, saya lalu berkeliling sejenak melihat beberapa ragam pajangan yang cukup menarik, walau sedikit mubadzir. Aaah, saya memang sukar menghilangkan kebiasaan buruk, doyan belanja meski kadang tak berguna, dalam pada isi kantong juga enggan bekerjasama. He he.


Akhirnya, saya putuskan saja tuk segera menuju kassa yang ternyata juga dijejali dana tunai mengantri,,, dalam hati berkata, mau ngasih uang aja mesti bersabar. Sambil menunggu dalam raga terdiam, mata saya menjelajah tiap pojok ruang etalase garmen dll dekat sang kasir. Pasca bergerak sekitar 48 derajat (hehe, lebayyy), pandangan terhenti pada sosok yang sangat saya kenal. Dia seorang public figure tempatan, walau saya mengenalnya sejak menjadi seorang guru ngaji anak2 dimesjid tempat beliau tinggal dahulu. Woow, saya tidak mungkin melewatkan begitu saja tanpa menyapanya,,, ruuuggiii tenan. Yaa, dia seorang anggota legislatif Kota Bengkuang asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sangat bersahaja, amat murah senyum dengan kumis tipisnya, sehobi dengan saya lagi, badminton :).

Keluar dari antrian dan segera saya samperin beliau, seraya menyapanya.

“Assalamu’alaikum ustadz, tumben jumpa di mall, lagi nyari apaan”. Sedikit beliau terkejut, lalu sesaat menjawab salam saya sambil tersenyum. Giginya yang putih & rapi, pipinya yg sedikit cekung dan bibirnya melengkung sejajar, tangan kanannya yg langsung terulur menyalami lalu kirinya memegang pundak saya, merupakan serpih-serpih fakta yg selalu saya pahami sebagai sebuah ketulusan.

“Gak ada pak Anwar, saya cuma menemani anak2 cari alat tulis dan pakaian, sambil nyuri kesempatan lihat ikat pinggang nih”. Beliau menjawab sejurus pertanyaan saya, lalu memperlihatkan ikat pinggangnya yang hampir putus. “Nah, ini dia barang tu, udah jumpa”. Saya tersentak selepas melamun sejenak, lalu bertanya kepada beliau. “Berapa harganya ustadz, biar saya yg bayar sekalian”; saya menawarkan jasa baik, yg memang lahir dari dasar lubuk hati. “Gak usah pak Anwar, merepotkan”, sergahnya. Lalu saya sedikit merebut ikat pinggang itu karena dorongan dua hal, pertama, memang ingin membelikannya (seperti saya biasa membayar kock badminton di hall). Kedua, disebabkan dugaan saya bahwa ikat pinggang pilihan anggota dewan itu, mohon maaf, murah (an).

Naaaah, benar dugaan saya yg kedua. Harga ikat pinggang itu cuma Rp. 20.000,-, ikat pinggang plastik istilah saya. Tanpa banyak bicara, saya langsung menarik beliau ke ornamen lain dan mengambil sebuah ikat pinggang kulit seharga hampir Rp. 500.000,- Biarpun ini tidak mewah, setidaknya menurut saya, layak dipakai oleh figur seperti beliau.

“Ustadz, mohon maaf beribu maaf, izinkan saya membelikan ikat pinggang ini untuk ustadz. Saya merasa bersalah jika ustadz tidak menerimanya”, saya memohon. Dengan amat serius dan memelas, saya mencoba meyakinkan beliau bahwa ikat pinggang kulit ini sangatlah pantas untuk beliau, dari sisi manapun dinilainya. Yang membuat saya tidak habis pikir adalah argumen2 yang dikemukakannya.

“Pak Anwar, ikat pinggang ini (yg 20 ribu itu) juga tahan, dapat 20 buah jika dibanding yang itu (yg 500 ribu ini). Lagi pula, saya sering pake jaket (putih les hitam kuning khas orang PKS), sehingga tidak begitu kelihatan. Saya malu nanti dilihat orang memakai barang mewah, lalu ditanya beli pake apa, oleh kader atau simpatisan”. Beliau menghela nafas sejenak, lalu kelihatan berpikir dan kemudian berujar lagi.

“Saya menghargai tawaran Pak Anwar, karena itu saya putuskan untuk membeli yang harga 200 ribu ini (seraya memperlihatkan ikat pinggang hitam dari bahan finil). Maaf Pak Anwar, biar saya yang bayar sendiri, toh ini kan bukan kock (bulu) badminton, mambana ambo pak (sebuah ungkapan dalam bahasa melayu Minang)”.

Tidak berselang lama, karena terasa waktu Maghrib sudah diambang, kami berpisah. Beliau menjemput anaknya dan saya hanya menatap punggung berbaju batik itu pergi. Dalam alam kesadaran saya, fragmen berdurasi menit yang sama alami bersama Ustadz PUN ARDI amat banyak memberi pengajaran. Hmmmm, andai banyak wakil rakyat sederhana seperti beliau, alangkah indahnya negeri ini. Mudah-mudahan beliau tidak tahu bahwa  dulu dan yang akan datang (kalau masih ada), saya adalah orang yang telah merusak gambar kumis tipisnya dengan paku. Selamat berjuang ustadz, kunanti smash2 kerasmu dilapangan, juga suara2 vokalmu di gedung wakil rakyat.(anwar muhammad)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Item Reviewed: Aleg PKS & Ikat Pinggang Plastik Rating: 5 Reviewed By: MUSLIMINA